Chat with us, powered by LiveChat

Mengenal Kelor

Pusat Pembelajaran Moringa Organik Indonesia

Mengenal Kelor

12 Agustus 2019 Budidaya & Pengolahan 0

Pohon Kelor dapat ditemukan tumbuh secara alami pada ketinggian hingga 1.000 m di atas permukaan laut. Dapat tumbuh dengan baik di lereng bukit, tetapi lebih sering ditemukan tumbuh di padang rumput atau di daerah aliran sungai. Kelor merupakan pohon yang dapat tumbuh dengan cepat. Bahkan, Kelor ditemukan dapat tumbuh 6 – 7 m dalam satu tahun di daerah yang curah hujannya kurang dari 400 mm (Odee, 1998).

Sebagai tanaman non-budidaya, Kelor sangat dikenal dengan ketahanannya terhadap kekeringan dan penyakit.
Kelor tumbuh dengan cepat dan mudah untuk diolah. Daun Kelor, segar atau diolah menjadi serbuk kering, dapat digunakan sebagai bahan makanan sehari-hari dalam banyak cara: seperti dalam makanan siap saji, jus, roti, pasta, mie, bumbu, sup instan, dll. Makanan ini dapat digunakan dalam rumah tangga, sekolah kafetaria, apotik, bangsal bersalin, pusat rehabilitasi gizi, serta restoran dan supermarket.

Panduan Budidaya ini diperuntukkan bagi para petani Kelor yang bermaksud mengusahakan tanaman Kelor sebagai komoditas agribisnis dengan metode khas Moringa Organik Indonesia. Metode ini telah memiliki sertifikasi organik dari CERES Jerman untuk proses budidaya dan pengolahannya, dan menghasilkan panen yang dapat memenuhi standar kandungan nutrisi. Tanaman Kelor adalah sumber nutrisi yang luar biasa di negara-negara berkembang. Selain itu, daun Kelor yang disajikan dalam berbagai olahan makanan dan minuman, merupakan sumber pendapatan dan lapangan kerja yang menjanjikan.

Ciri Umum Tanaman Kelor

Pohon Kelor dapat ditemukan tumbuh secara alami pada ketinggian hingga 1.000 m di atas permukaan laut.  Dapat tumbuh dengan baik di lereng bukit, tetapi lebih sering ditemukan tumbuh di padang rumput atau di daerah aliran sungai.  Kelor merupakan pohon yang dapat tumbuh dengan cepat. Bahkan, Kelor ditemukan dapat tumbuh 6 – 7 m dalam satu tahun di daerah yang curah hujannya kurang dari 400 mm (Odee, 1998). Sebagai tanaman non-budidaya, Kelor dikenal dengan ketahanannya terhadap kekeringan dan penyakit.

Tanaman Kelor (Moringa oleifera Lam.) tumbuh dalam bentuk pohon, berumur panjang (perenial) dengan tinggi 7 – 12 m. Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar. Percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang.

Daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda – setelah dewasa hijau tua, bentuk helai daun bulat telur, panjang 1 – 2 cm, lebar 1 – 2 cm, tipis lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip (pinnate), permukaan atas dan bawah halus. Bunga muncul di ketiak daun (axillaris), bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar aroma khas.

Buah Kelor berbentuk panjang bersegi tiga, panjang 20 – 60 cm, buah muda berwarna hijau – setelah tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat – berwarna coklat kehitaman, berbuah setelah berumur 12 – 18 bulan. Akar tunggang, berwarna putih, membesar seperti lobak. Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek batang). Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai di ketinggian ± 1000 m dpl, banyak ditanam sebagai tapal batas atau pagar di halaman rumah atau ladang.

Syarat Tumbuh

Meskipun berasal dari kaki pegunungan Himalaya, Tanaman Kelor tidak hanya dapat tumbuh dan berkembang di India saja, tetapi juga di berbagai kawasan tropis lainnya di dunia. Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Karena tanaman Kelor merupakan leguminosa, maka bagus ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain karena dapat menambah unsur nitrogen dan lahan (Anonimous. 2007).

Salah satu sifat yang menguntungkan untuk membudidayakan pohon Kelor yang sudah diketahui sejak lama, yaitu minimnya penggunaan pupuk dan jarang diserang hama (oleh serangga) ataupun penyakit (oleh mikroba). Sehingga biaya untuk pemupukan dan pengontrolan hama dan penyakit relatif sangat murah. Bahkan, dari pengalaman para petani Kelor yang sudah lama berkecimpung, diketahui bahwa pemupukan yang baik adalah berasal dari pupuk organik, khususnya berasal dari kacang-kacangan (misal kacang hijau, kacang kedelai ataupun kacang panjang) yang ditanamkan sekitar pohon Kelor (Winarno. 2003).

Pohon Kelor dapat tumbuh mudah, baik yang berasal dari biji atau stek. Biji Kelor tidak mempunyai periode dormansi, jadi mereka dapat tumbuh secepat mungkin setelah mereka matang. Biji Kelor juga mempunyai kemampuan bertahan untuk dapat berkecambah selama 1 tahun. Selama tahun pertama pohon Kelor akan tumbuh mencapai ketinggian 5 m dan menghasilkan bunga dan buah. Dalam 3 tahun pohon ini akan menghasilkan 400-600 polong setiap tahunnya dan pohon dewasa menghasilkan 1.600 polong ( Fuglie, 2001)

Di India tumbuhan ini dibiakkan dengan menggunakan stek (potongan dahan) sepanjang 2 cm dengan penanaman sekitar bulan Juni sampai dengan Agustus.

Pohon akan keluar kelopak bunga setelah 6-8 bulan penanaman, tetapi perawatan pertumbuhan reguler terjadi setelah tahun kedua. Pohon ini akan tumbuh membesar setelah beberapa tahun kemudian.

Secara umum, parameter lingkungan yang dibutuhkan Tanaman Kelor untuk tumbuh dengan baik adalah :

Iklim                 : Tropis atau sub-Tropis

Ketinggian      : 0 – 1.000 meter dpl (optimal pada 300 – 600 m dpl)

Suhu                : 25 – 35 °C

Curah Hujan   : 250 mm – 2000 mm per tahun.

Irigasi yang baik diperlukan jika curah hujan kurang dari 800 mm

Type tanah     : berpasir atau lempung berpasir

PH Tanah        : 5 – 9

Pilih daerah di mana tanah yang berpengairan baik. Hal ini membantu untuk membuang kelebihan air dari tanah dan memungkinkan pertukaran bebas dari gas antara atmosfer dan partikel tanah. Hindari tanah liat yang menjadi lengket ketika basah dan sangat keras saat kering. Usahakan pilih tanah yang tidak terdapat banyak rayap dan harus berada di daerah terbuka yang menerima sinar matahari penuh.

Areal tanaman harus dilindungi dari hewan berkeliaran bebas oleh pagar alami atau buatan yang memadai. Berdasarkan pengalaman kami, lebih dekat ke pantai, tanaman Kelor tumbuh lebih baik.